Teknologi Pendidikan
MAKALAH
Disusun
untuk memenuhi tugas
Mata
kuliah: Teknologi Pendidikan
Dosen
Pengampu: Windo Dicky Irawan S.Pd, M.Pd.
Kelompok
3
Prodi
: PBSI (Semester 3)
Nama-nama
Anggota Kelompok :
1. Mita
Aprilia Sari (1988201008)
2.
Bedti Sari (1988201013)
3.
Izzudin Anwar (1988201051)
4.
Diyah Pangestu (1988201015)
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH KOTABUMI
LAMPUNG
OKROBER
2020/20201
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah,
bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah Peningkatan
Kinerja (Improving Performance) TP
& Penerapannya pada Bahasa Indonesia ini dapat terselesaikan dan sampai
pada hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya membawa manfaat yang
sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti pada masa sekarang dan
yang akan datang.
Makalah ini penulis buat bertujuan untuk menambah
wawasan bagi penulis serta pembaca. Dan diharapkan pembaca bisa mengambil
kesimpulan-kesimpulannya agar bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam penulisan makalah ini tentunya banyak dijumpai
kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya
dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan. Agar kekurangan dan
kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan mamfaat bagi pengembangan
pendidikan bahasa Indonesia pada umumnya.
Penulis
Kelompok
3
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................................
i
DAFTAR
ISI...........................................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN.........................................................................................................
1
A. Latar
Belakang.............................................................................................................1
B. Rumusan
Masalah.......................................................................................................1
C. Tujuan
..........................................................................................................................
2
BAB II
PEMBAHASAN.........................................................................................................
3
A. Apa
pengertian dari Teknologi Pendidikan……………………………….....................…………..3
B.
Bagaimana Teknologi Pendidikan dalam pengembangan pendidikan Bahasa
Indonesia…......................………………………………...............………..............................…….....7
C. Apa
pengertian dan ruang lingkup dari Kinerja………………………………................…….....8
D. Apa
konteks Teknologi Kinerja………………………………………...............……….............……...10
E.
Bagaimana meningkatkan
Kinerja………………………………………….........................………..13
F.
Bagaimana teknologi pendidikan dan peningkatan
Kinerja………………….........……...15
BAB III
PENUTUP................................................................................................................
18
A.
KESIMPULAN……………………………………………………………………….........................................20
B.
SARAN.........................................................................................................................
20
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................
21
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kemajuan teknologi informasi berjalan sangat cepat.
Seiring dengan perkembangan teknologi, penyimpanan dan pengiriman data semakin
murah dan semakin baik kualitasnya. Baik individu, institusi, lembaga
pendidikan, maupun pemerintah ikut melakukan berbagai upaya untuk memanfaatkan
perkembangan teknologi. Bahkan dalam dunia pendidikan bahasa Indonesia, sudah
saatnya kita memanfaatkan teknologi tersebut.
Teknologi akan memberikan nilai tambah dalam proses
pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya kebutuhan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang tidak semuanya diperoleh dalam lingkungan
sekolah. Demikian pula pada saat melakukan pertukaran data dan informasi antar
sekolah, sekolah dengan masyarakat, sekolah dengan pemerintah daerah dan pusat,
utamanya dalam pendidikan Islam dan lain-lain, semuanya akan lebih efektif dan
efisien jika memanfaatkan teknologi dalam kemjuan pendidikan tersebut.
Dalam dunia pendidikan, penggunaan teknologi memberikan dampak
positif dan negatif. Adapun dampak positifnya, antara lain adalah dapat
mempermudah pengajar dalam menyampaikan materi dengan cara yang tidak manual
lagi. Dengan menggunakan teknologi, kita juga dapat memberikan gambaran yang
lebih konkret ketika menyampaikan materi tentang suatu hal. Dan dampak yang
lain adalah dapat mempermudah kita dalam memproses informasi, misalnya dengan
pemanfaatan internet.
Sedangkan dampak negatif dari penggunaan teknologi
dalam pendidikan antara lain adalah, adanya gangguan teknis yang menjadikan
proses pembelajaran menjadi terganggu. Dalam hal ini bila ternyata teknologi
yang kita gunakan tidak lagi membantu. Misalnya jika dalam proses pembelajaran
yang memanfaatkan LCD tiba-tiba listrik mati, maka akan menyulitkan kita untuk
menyampaikan materi yang telah disiapkan. Dampak negatif lainnya adalah, akibat
kemajuan teknologi, individu cenderung bersifat individualis dan kurang dalam
kehidupan bersosialisasi. Dan terkadang sebagian individu sering
menyalahgunakan teknologi, sehingga membuang waktunya dengan kegiatan yang
kurang bermanfaat.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari Teknologi Pendidikan?
2.
Bagaimana Teknologi Pendidikan dalam pengembangan pendidikan bahasa
Indonesia?
3. Apa
pengertian dan ruang lingkup dari Kinerja?
4. Apa
konteks Teknologi Kinerja?
5.
Bagaimana meningkatkan Kinerja?
6.
Bagaimana teknologi pendidikan dan peningkatan Kinerja?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui makna teknologi pendidikan.
2. Untuk
mengetahui cara teknologi pendidikan dalam pengembangan pendidikan bahasa
Indonesia.
3. Untuk
mengetahui makna dan ruang lingkup
kinerja.
4. Untuk
mengetahui konteks teknologi kinerja.
5. Untuk
mengetahui cara meningkatkan kinerja.
6. Untuk
mengetahui teknologi pendidikan dan peningkatan kinerja.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teknologi Pendidikan
Istilah teknologi berasal dari bahasa Yunani
technologia yang menurut Webster Dictionary berarti systematic treatment atau
penanganan sesuatu secara sistematis, sedangkan technesebagai dasar kata
teknologi berarti art, skilll, science atau keahlian, ketrampilan, ilmu.
Dari segi bahasa, pendidikan berasal dari kata
education yang dapat diartikan upbringing (pengembangan), teaching(pengajaran),
instruction (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi
makan), raising (of animal) (menumbuhkan). Dalam bahasa Arab, kata pendidikan
merupakan terjemahan dari kata al-tarbiyah yang dapat diartikan proses
menumbuhkan dan mengembangkan potensi yang terdapat pada diri seseorang, baik
secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual. Selain itu kata tarbiyah juga
dapat berarti menumbuhkan dan mendewasakan peserta didik, memperbaiki
(ashlaha), menguasai urusan, memelihara dan merawat, memperindah, memberi
makna, mengasuh, memiliki, mengatur, dan menjaga kelangsungan maupun eksistensi
seseorang.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Teknologi pendidikan sebagai suatu cara mengajar yang menggunakan
alat-alat teknik modern yang sebenarnya dihasilkan bukan khusus untuk keperluan
pendidikan akan tetapi dapat dimanfaatkan dalam pendidikan seperti radio, film
opaque projector, overhead projector, TV, video, taperecorder, komputer, dan
lain-lain. Dalam teknologi pendidikan alat-alat itu disebut hardware. Alat-alat
itu baru bermanfaat bila dikaitkan dengan suatu pelajaran atau program. Program
ini lazim disebut software. Yang merupakan inti teknologi pendidikan adalah
programnya yang harus disusun melalui prinsip-prinsip tertentu.
Teknologi pendidikan adalah suatu proses yang
kompleks dan terintegrasi, meliputi: manusia, prosedur, ide, peralatan dan
organisasi untuk menganalisa masalah yang menyangkut semua aspek belajar
manusia, serta merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah
tersebut. Dalam teknologi pendidikan, pemecahan masalah itu terjelma dalam
bentuk semua sumber belajar yang didesain dan/ atau dipilih dan/atau digunakan
untuk keperluan belajar sumber-sumber belajar ini meliputi: pesan, orang,
bahan, peralatan, teknik dan latar (setting).
Teknologi pendidikan adalah suatu cara yang
sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan
dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik,
berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan
menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non manusia
untuk membuat pembelajaran lebih efektif.
Secara historis, istilah teknologi pendidikan
(educational technology) dan teknologi pembelajaran (instructional technology)
dimaknai oleh sebagian ahli pendidikan secara terpisah. Ada yang menyetujui
penggunaan istilah “teknologi pendidikan”, dengan alasan bahwa kata
“pendidikan” memberikan cakupan yang lebih luas daripada sekedar menggunakan
kata “pembelajaran”. Selain itu mereka juga beranggapan bahwa kata “pendidikan”
tersebut merujuk pada aneka ragam lingkungan belajar, termasuk belajar di
rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan sebagainya, sementara kalau hanya
menggunakan istilah “pembelajaran”, tentu cakupannya hanya sebatas di
lingkungan sekolah saja. Sedangkan bagi yang setuju dengan menggunakan istilah
“teknologi pembelajaran” berpendapat bahwa kata pembelajaran lebih sesuai
dengan fungsi teknologi, yakni berkenaan dengan permasalahan belajar dan
mengajar, termasuk juga mencakup situasi pelatihan (training). Kedua kelompok ini
sepertinya menggunakan alasan yang seimbang untuk membenarkan pendapat mereka
masing-masing.
Namun seiring dengan perkembangan dunia pendidikan,
perbedaan istilah tersebut telah menghilang. Sejak tahun 1994 istilah
“Teknologi Pendidikan” dan “Teknologi Pembelajaran” dianggap sinonim dan
digunakan secara bergantian oleh kebanyakan ahli pendidikan untuk menjelaskan
penerapan proses dan sarana (tools) teknologi dalam memecahkan permasalahan
belajar dan pembelajaran.
Sekarang yang menjadi persoalan sekaligus pertanyaan bagi kita tentunya
adalah bagaimana dengan eksitensi pendidikan Islam dalam menghadapi arus
perkembangan IPTEK yang sangat pesat. Bagaimanapun tampaknya pendidikan Islam
terutama lembaganya dituntut untuk mampu mengadaptasikan di dunia dengan
kondisi yang ada. Di samping dapat mengadaptasi dirinya, pendidikan Islam juga
dituntut untuk menguasai IPTEK, dan kalau perlu merebutnya.
Kenyataan untuk merebut teknologi dan ilmu pengetahuan tersebut adalah
sangat penting, sebab sekarang pembangunan nasional diarahkan dengan orientasi
pada teknologi industri, dalam hal ini tak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Prinsip yang dijadikan landasan teknologi dalam pembelajaran:
1.
Lingkungan senantiasa berubah.
2. Jumlah
penduduk semakin bertambah.
3.
Sumber-sumber sediakala semakin
terbatas.
4. Hak
setiap pribadi untuk perkembangan semaksimal mungkin.
5.
Masyarakat berbudaya teknologi.
Desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan
penilaian adalah 5 kawasan teknologi pendidikan yang harus dikembangkan untuk
mengidentifikasi hubungan timbal balik dari teori dan praktik pembelajaran
serta penelitian yang dilakukan untuk melihat kebenaran teori yang ada. Setiap
kawasan dalam teknologi pendidikan memberikan kontribusi kepada pengembangan
teori dan praktik dan sebaliknya teori dan praktik dijadikan pengembangan
kawasan. Tiap kawasan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan
sebagai suatu kegiatan yang sistematik. Hubungan antar kawasan ini bersifat
saling melengkapi.
Penjelasan mengenai masing-masing kawasan/ ruang
lingkup teknologi pendidikan adalah sebagai berikut:[5]
1.
Kawasan Desain
Yang dimaksud dengan desain disini adalah proses
untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan
produk. Kawasan desain paling tidak meliputi empat cakupan utama dari teori dan
praktek, yaitu: desain sistem pembelajaran, desain pesan, strategi
pembelajaran, dan karakteristik pembelajar.
2.
Kawasan Pengembangan
Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi
desain ke dalam bentuk fisik, di dalamnya meliputi: teknologi cetak, teknologi
audio-visual, teknologi berbasis komputer, dan teknologi terpadu.
3.
Kawasan Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan
sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan
kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.
Menurut
Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie, ada lima prinsip yang harus diikuti untuk mencapai
penguasaan IPTEK, yaitu:
a.
Melakukan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM) dalam
bidang IPTEK yang relevan dengan pembangunan bangsa.
b.
Mengembangkan konsep masyarakat teknologi dan industri serta melakukan
usaha serius dalam merealisasikan konsep tersebut.
c. Adanya
tranfer, aplikasi dan pengembangan lebih jauh dari teknologi yang diarahkan
pada pemecahan masalah-masalah nyata.
d.
Kemandirian teknologi, tanpa harus bergantung di luar negeri.
e. Perlu
adanya perlindungan terhadap teknologi yang dikembangkan di dalam negeri hingga
mampu bersaing di arena Internasional.
Sementara
itu pendidikan bahasa Indonesia yang tugas pokoknya menelaah dan menganalisis
serta mengembangkan pemikiran, informasi dan fakta-fakta kependidikan yang sama
sebangun dengan nilai-nilai bahasa Indonesia dituntut harus mampu
mengetengahkan perencanaan program-program dan aktifitas-aktifitas operasional
kependidikan, terutama yang berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan IPTEK
sebagaimana telah dideskripsikan di atas.
B. Teknologi Pendidikan dalam
Pengembangan Pendidikan Bahasa Indonesia
Pendidikan Bahasa Indonesia sesuatu kekuatan yang sangat signifikan
dipertahankan atau dikembangkan. Hal ini mungkin dapat dilihat dari tataran
filosofi atau konsepsual dan pengalaman selama ini dari lembaga-lembaga
pendidikan Indonesia yang dalam waktu ke waktu telah mampu tumbuh di
tengah-tengah dinamika masyarakat Indonesia dan memberikan konstribusi sebagai
berikut:
1.
Motivasi kreatifitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri,
di mana nilai-nilai negara Indonesia menjadi sumber acuannya.
2.
Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan
hidup Masyarakat Indonesia
3.
Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran bahasa Indonesia dan IPTEK,
dan hubungan yang akrab dengan para ilmuan yang memegang otoritas IPTEK dalam
bidang masing-masing.
4.
Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan
masyarakat Indonesia melalui kemampuan menginterprestasikan ajaran bahasa
Indonesia dari sumber-sumbernya yang murni dan kontekstual dengan masa depan
kehidupan manusia.
C. Pengertian dan Ruang Lingkup Kinerja
Akhir-akhir ini kinerja telah menjadi terminologi atau konsep yang
sering dipakai orang dalam berbagai pembahasan dan pembicaraan, khususnya dalam
kerangka mendorong keberhasilan organisasi atau sumber daya manusia. Terlebih,
saat ini organisasi dihadapkan pada tantangan kompetisi yang tinggi; era
kompetisi pasar global, kemajuan teknologi informasi, maupun tuntutan pelanggan
atau pengguna jasa layanan yang semakin kritis.
Bahkan,
kinerja akan selalu menjadi isu aktual dalam organisasi karena-apa pun
organisasinya-kinerja merupakan pertanyaan kunci terhadap efektivitas atau
keberhasilan organisasi. Organisasi yang berhasil dan efektif merupakan
organisasi dengan individu yang di dalamnya memiliki kinerja yang baik.
Organisasi yang efektif atau berhasil akan ditopang oleh sumber daya manusia
yang berkualitas. Banyak organisasi yang berhasil atau efektif karena ditopang
oleh kinerja sumber daya manusia. Sebaliknya, tidak sedikit organisasi yang
gagal karena faktor kinerja sumber daya manusia. Dengan demikian, ada
kesesuaian antara keberhasilan organisasi atau kinerja organisasi dengan
kinerja individu atau sumber daya manusia.
Selama
ini masih sering terjadi perbedaan pemahaman mengenai konsep kinerja. Di satu
sisi, ada pemahaman konsep kinerja yang lebih memfokuskan pada konteks
organisasi, tetapi di sisi lain ada yang lebih memfokuskan pada konteks individu
atau sumber daya manusia. Bahkan, pencampuradukan pemahaman sering terjadi.
Konsep
kinerja pada dasarnya merupakan perubahan atau pergeseran paradigma dari konsep
produktivitas. Pada awalnya, orang sering kali menggunakan istilah produktivitas
untuk menyatakan kemampuan seseorang atau organisasi dalam mencapai tujuan atas
sasaran tertentu. Menurut Andersen (1995), paradigma produktivitas yang baru
adalah paradigma kinerja secara aktual yang menuntut pengukuran secara aktual
keseluruhan kinerja organisasi, tidak yang efesiensi atau dimensi fisik, tetapi
juga dimensi non fisik (intangible).
Terkait
dengan konsep kinerja, Rummler dan Branche (1995) mengemukakan ada 3 (tiga)
level kinerja, yaitu:
1.
Kinerja organisasi; merupakan pencapaian hasil (outcome) pada level atau
unit analisis organisasi. Kinerja pada level organisasi ini terkait dengan
tujuan organisasi, rancangan organisasi, dan manajemen organisasi.
2.
Kinerja proses; merupakan kinerja pada proses tahap-tahap dalam menghasilkan
produk atau pelayanan. Kinerja pada level proses ini dipengaruhi oleh tujuan
proses, rancangan proses, dan manajemen proses.
3.
Kinerja individu/ pekerjaan; merupakan pencapaian atau efektivitas pada
tingkat pegawai atau pekerjaan. Kinerja pada level ini dipengaruhi oleh tujuan
pekerjaan, rancangan pekerjaan, dan manajemen pekerjaan serta karakteristik
individu.
Dalam
berbagai literatur, pengertian tentang kinerja sangat beragam. Akan tetapi,
dari berbagai perbedaan pengertian, dapat dikategorikan dalam dua garis besar
pengertian di bawah ini;
a.
Kinerja merujuk pengertian sebagai
hasil. Dalam konteks hasil, Bernardin (2001, 143) menyatakan bahwa
kinerja merupakan catatan hasil yang di produksi (dihasilkan) atas fungsi
pekerjaan tertentu atau aktivitas-aktivitas selama periode waktu tertentu. Dari
definisi tersebut, Bernardin menekankan pengertian kinerja sebagai hasil, bukan
karakter sifat (trait) dan perilaku. Pengertian kinerja sebagai hasil juga
terkait dengan produktivitas dan efektivitas (Ricard, 2003). Produktivitas
merupakan hubungan antara jumlah barang dan jasa yang dihasilkan dengan jumlah
tenaga kerja, modal, dan sumber daya yang digunakan dalam produk itu (Miner,
1988).
b.
Kinerja merujuk pengertian sebagai perilaku. Terkait dengan kinerja
sebagai perilaku, Murphy, 1990 (dalam Ricard, 2000) menyatakan bahwa kinerja
merupakan seperangkat perilaku yang relevan dengan tujuan organisasi atau unit
organisasi tempat orang bekerja. Pengertian kinerja sebagai perilaku juga dikemukakan
oleh Mohrman (1989), Campbell (1993), Cardy dan Dobbins (1994), Waldwan
(1994)(dalam Ricard, 2002). Kinerja merupakan sinonim dengan perilaku. Kinerja
adalah sesuatu yang secara aktual orang kerjakan dan dapat diobservasi. Dalam
pengertian ini, kinerja mencakup tindakan-tindakan dan perilaku yang relevan
dengan tujuan organisasi. Kinerja bukan konsekuensi atau hasil tindakan, tetapi
tindakan itu sendiri (Campbell, 1993 dalam Ricard 2003).
D. Konteks Teknologi Kinerja
1. Makna Human
Istilah ini merujuk pada konsep
kinerja keseluruhan dalam suatu organisasi. Secara struktur, dalam organisasi
terdapat kinerja manusia, kinerja organisasi, kinerja mesin, piranti atau
komputer. Setiap kinerja berdampak terhadap peningkatan mutu organisasi secara
keseluruhan. Sebagai contoh, Indonesia mengalami kemunduran dalam dunia
olahraga bulu tangkis. Kalimat ini merujuk pada kinerja bulu tangkis Indonesia.
Kata Indonesia dalam pernyataan ini bukanlah arti dari Indonesia sebagai
teritori, Negeri kepulauan, atau penduduk yang berjumlah lebih dari 200 juta
orang. Makna Indonesia di sini adalah para pemain bulu tangkis, terdiri dari
beberapa orang pemain dan pengurusnya yang mewakili Negara Indonesia. Tim
Nasional bulu tangkis ini bertanding atas nama rakyat dan negara. Untuk itu,
label Indonesia yang mereka sandang. Prestasi mereka sama dengan prestasi
Indonesia dalam pengertian teritori dan penduduknya. Dalam hal ini, hanya tim
tersebut yang berjuang dan memperlihatkan kinerja mereka.
2. Makna Kinerja
Sesuatu yang dilakukan oleh karyawan, termasuk
didalamnya adalah aspek kognitif atau berpikir, sikap, sisitem nilai yang
dianutnya, keputusan, cara pandang, dan berinteraksi. Dalam bukunya, pershing,
et al, menyebutkan bahwa tenaga terkait dengan kompetensi (keahlian, kemampuan,
dan pengetahuan). Bagi organisasi ISPI, rumusan kinerja sederhana, menyangkut
kegiatan dan hasil yang terukur. Rothwell dan kazanas, menyatakan pendapat
mereka tentang kinerja secara menyeluruh. Pandangan mereka mencakup pencapaian
seseorang karena ia telah menunjukan perilaku, keterampilan, sikap, sekaligus
pengetahuannya. Selain itu, mereka menjelaskan perbedaan kinerja organisasi dan
mesin atau peralatan.
3. Makna
Teknologi
Definisi teknologi yang
dirumuskan dalam lingkup teknologi kinerja tidak berbeda dengan rumusan
teknologi secar umum, atau dalam cakupan teknologi pendidikan. Teknologi
terkait dengan prosedur, teknik serta temuan ilmiah yang dihasilka melalui
serangkaian penelitian. Dan berdamapak pada penyelesaian masalah.
4. Tempat
Kerja dan Organisasi
Jika selama ini teknologi pendidikan/pembelajaran
sering dikaitkan dengan lembaga pendidikan/sekolah, maka teknologi kinerja
terkait dengan pemberdayaan melalui proses belajar di organisasi atau tempat
bekerja seseorang. Teknologi kinerja membahas masalah belajar dan
penyelenggaraannya bagi karyawan/pekerja dengan pendekatan secara individu atau
tim. Konsep belajar untuk karyawan ini mendorong para ahli untuk mengadopsi
prinsip belajar orang dewasa serta psikologi industri. Tentu saja dengan
penerapan dua teori ini menyebabkan dua pertimbangan dan keputusan menentukan
model, strategi, media pembelajaran atauassement belajar menjadi berbeda
dibandingkan dalam menentukan model, strategi, media pembelajaran, dan assement
bagi peserta didik di sekolah.
Selain itu, pengaruh sifat dan budaya setiap
organisasi terlihat pula dalam menentukan pilihan pembelajaran. Teknologi
pembelajaran sedah tentu perlu menyadari dan mengimplementasikan hal ini dalam
memilih pendekatan yang cocok bagi kliennya.
Rumusan teknologi kinerja yaitu:
a.
Sistematis: mempunyai aturan, tata tertib, dan teratur dalam
pelaksanaannya.
b. Sistem:
memandang kinerja dan prestasi seseorang di lembaga/ organisasi sebagai suatu
sistem, yang dianalisis berdasarkan komponen didalamnya.
c.
Berdasarkan teori: sebagian pakar berpendapat bahawa teknologi kinerja
berevolusi dari refleksi teknologi pembelajaran/pendidikan yang berprofesi di
bisnis dan industri, melakukan penyesuaian pemikiran dan pemecahan masalah
berdasarkan lingkungan kinerja mereka.
d. Terbuka
untuk berbagai pendekatan: penyeselaian masalah atau intervensi tidak berpihak
atau menganut suatu media apapun, melainkan manfaat berbagai sumber yang tepat
dan sesuai.
e. Terpusat
pada kemampuan seseorang dan sistem nilai: teknologi kinerja menelusuri teknik,
cara, dan sumber yang tepat untuk meningkatkan mutu kinrja seseorang atau
memberdayakan agar ia dapat berprestasi dan sukses, melalu sistem nilai yang
berlaku di organisasi dan masyarakat umumnya.
Upaya menyesuaikan dengan organisasi menorong
seorang teknolog kinerja untuk terbuka dan bekerja sama dengan semua pihak dan
mengkaji seluruh elemen organisas seperti seleksi dan rekrutmen, insentif,
peraturan dan kebijakan, dan sebagainya. Menekan atau efiiensi biaya pelatihan
serta penyelenggaraan program pelatihan yang lebih selektif ini menjadi alasan
keberadaan teknologi kinerja di organisasi, terutama organisasi yang
berorientasi pada keuntungan.
E. Meningkat Kinerja
Menurut Association for Educational Communications
and Technology atau disingkat AECT (2004), Teknologi Pendidikan (TP)
didefinisikan sebagai studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi
pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan,
dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat, Jelas, tujuan
utamanya yaitu untuk:
a.
Memecahkan masalah belajar atau memfasilitasi pembelajaran agar efektif,
efisien dan menarik.
b.
Meningkatkan kinerja.
Dalam teknologi pendidikan improving performance
atau diterjemahkan sebagai meningkatkan kinerja lebih sering merujuk pada suatu
pernyataan mengenai keefektifan; bisa merupakan cara-cara yang diharapkan
membawa hasil yang berkualitas, produk yang diharapkan dapat menciptakan proses
belajar yang efektif, dan perubahan-perubahan kompetensi yang dapat diterapkan
di dunia nyata. Makna belajar itu pun merupakan suatu rangkaian proses
interpretasi berdasarkan pengalaman yang telah ada, interpretasi tersebut
kemudian dicocokan pengalaman-pengalaman baru.
Efektif sering kali berdampak pada efisiensi, yaitu
hasil yang dicapai dengan penggunaan waktu, tenaga, dan biaya seminim mungkin.
Namun apa yang dimaksud dengan efisien sangatlah tergantung pada tujuan yang
hendak dicapai. Efisiensi dalam gerakan pengembangan instruksional sistematis
didefinisikan sebagai menolong peserta didik mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya yang diukur dengan evaluasi terstruktur (tes, ulangan,
dsb). Oleh sebab itu proses kegiatan
belajar dilakukan dengan tahapan-tahapan yang sistematis. Pandangan ini berbeda
dengan pendekatan cara belajar konstruktivis. Cara pandang konstruktivis
menekankan pada posisi peserta didiklah yang menentukan tujuan mereka sendiri
dan bagian apa yang hendak dipelajari.
Belajar yang benar dan berhasil adalah apabila ilmu
pengetahuan dapat dipahami secara mendalam, dialami, dan diterapkan untuk
mengatasi masalah-masalah di dunia nyata, bukan berdasar hasil ujian atau
ulangan. Konstruktivisme cenderung mempersoalkan perancangan lingkungan belajar
daripada pentahapan kegiatan pembelajaran. Lingkungan belajar ini merupakan
konsteks yang kaya, baik dari landasan pengetahuan, masalah yang otentik, dan
perangkat yang digunakan untuk memecahkan masalah. Itulah sebabnya efisiensi
tergantung pada apa tujuan yang hendak dicapai dalam proses belajar.
Sementara kata performanceatau kinerja merujuk pada
dua hal yang saling berkesinambungan:
a. Kemampuan
peserta didik untuk menggunakan dan mengaplikasikan kompetensi baru yang telah
dicapainya; bukan sekedar mendapat pengetahuan kemudian stagnan, namun
pengetahuan itu meningkatkan kompetensi dan kompetensi tersebut dapat
diaplikasikan secara nyata.
b. Selain
menolong peserta didik memiliki kompetensi yang lebih baik, alat dan ide-ide
teknologi pendidikan dapat membantu para guru maupun perancang pembelajaran
menjadi tenaga pendidik yang lebih mumpuni.Hasilnya mereka dapat menolong
berbagai institusi mencapai tujuan dengan lebih baik.
F. Teknologi Pendidikan dan Peningkatan
Kinerja
Teknologi pendidikan dan peningkatan Kinerja
Teknologi pendidikan masih merupakan pendekatan yang terbuka bagi
berbagai-bagai pendirian.
Mengajar dan belajar masih banyak mengandung hal-hal yang sebenarnya
belum kita pahami sepenuhnya. Itu sebabnya terdapat berbagai teori tentang
belajar yang belum dapat dipadukan menjadi satu teori belajar yang uniform.
Juga belum diketahui dengan pasti bagaimana merumuskan tujuan khusus, cara
menyampaikan bahan pelajaran yang paling serasi. Masih belum ada keyakinan,
hingga manakah kita dapat mengukur hasil mengajar khususnya tujuan pendidikan yang mengenai perkembangan
kepribadian anak antara lain dalam bidang efektif. Banyak lagi hal-hal dalam
situasi belajar yang belum kita ketahui dengan jelas apa pengaruhnya terhadap
hasil belajar, demikian pula belum mengetahui peranan perbedaan individual
dalam proses belajar. Justru karena itulah aliran teknologi pendidikan
mendorong para pengajar untuk lebih memandang kegiatan mengajar ini sebagai
masalah dan berusaha memecahkannya secara ilmiah berdasarkan penelitian. Ini
menuntut agar tiap guru sedikit banyak sedikit menjadi peneliti yang selalu
kritis terhadap usahanya, bersedia mencari jalan-jalan baru untuk senantiasa
meningkatkan keahliannya dalam profesinya.
Teknologi
tidak merupakan kunci kearah sukses yang pasti dalam pendidikan. Akan tetapi
teknologi pendidikan menunjukkan sesuatu prosedur atau metodologi yang dapat
diterapkan dalam pendidikan. Teknologi pendidikan dalah suatu teori yang
mempunyai sejumlah hipotedsis. Teknologi pendidikan dapat juga dipandang
sebagai suatu gerakkan dalam pendidikan yang diikuti oleh guru-guru yang
merasakan bahwa mengajar hingga kini masih dilakukkan secara semberono,
asal-asal saja, tanpa dasar yang kokoh, menurut selera masing-masing. Maka
teknologi pendidikan merupakan usaha yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki
metode mengajar dengan menggunakan prinsip-porinsip ilmiah yang membuktikan
keberhasilan dalam bidang-bidang lain.
G. Penerapan Teknologi dalam
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Untuk
menerapkan teknologi pendidikan dalam sebuah sistem maupun lembaga pendidikan
khususnya pendidikan Islam, tentunya dibutuhkan seorang pendidik atau pelaksana
pendidikan yang mempunyai kemampuan dalam beberapa bidang sebagai berikut:
Perancang proses dan sumbe r belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi
perancangan sistem pembelajaran, desain pesan, strategi pembelajaran dan
karakteristik belajar Pengembangan proses dan sumber belajar; dimana lingkup
pekerjaannya meliputi pengembangan teknologi cetak, teknologi audiovisual,
teknologi berbasis computer, teknologi terpadu.
Pemanfaatan/penggunaan proses dan sumber
belajar; dimana lingkup pekerjaannya meliputi pemanfaatan media pembelajaran,
difusi inovasi pendidikan, implementasi dan institutionalisasi serta penerapan
kebijakan dan regulasi pendidikan. Pengelola proses dan sumber belajar; dengan
lingkup pekerjaan meliputi pengelolaan proyek, pengelolaan sistem informasi
pendidikan. Evaluasi/ penilaian; dengan lingkup pekerjaan meliputi melakukan
analisis masalah, penguku ranacuan patokan, evaluasi formatif, evaluasi
sumatif.
Apabila sebuah lembaga pendidikan Islam mempunyai
tenaga yang kompeten dalam beberapa bidang di atas, maka akan lebih mudah bagi
lembaga tersebut untuk menerapkan teknologi pendidikan secara maksimal serta
memperoleh hasil yang maksimal juga. Dengan demikian, mutu dari pendidikan
Islam tidak akan dipandang remeh atau dinomor duakan setelah pendidikan umum.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Teknologi pendidikan adalah suatu proses yang kompleks dan terintegrasi,
meliputi: manusia, prosedur, ide, peralatan dan organisasi untuk menganalisa
masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia, serta merancang,
melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah tersebut. Dalam teknologi
pendidikan, pemecahan masalah itu terjelma dalam bentuk semua sumber belajar
yang didesain dan/ atau dipilih dan/atau digunakan untuk keperluan belajar
sumber-sumber belajar ini meliputi: pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan
latar (setting).
Hal ini
mungkin dapat dilihat dari tataran filosofi atau konsepsual dan pengalaman
selama ini dari lembaga-lembaga pendidikan bahasa Indonesia yang dalam waktu ke
waktu telah mampu tumbuh di tengah-tengah dinamika masyarakat dan memberikan
konstribusi sebagai berikut:
1.
Motivasi kreatifitas anak didik ke arah pengembangan IPTEK itu sendiri,
di mana nilai-nilai Bangsa Indonesia menjadi sumber acuannya.
2.
Mendidik keterampilan, memanfaatkan produk IPTEK bagi kesejahteraan
hidup manusia pada umumnya dan Masyarakat Indonesia pada Khususnya.
3.
Menciptakan jalinan yang kuat antara ajaran bahasa Indonesia dan IPTEK,
dan hubungan yang akrab dengan para ilmuan yang memegang otoritas IPTEK dalam
bidang masing-masing.
4.
Menanamkan sikap dan wawasan yang luas terhadap kehidupan masa depan
manusia melalui kemampuan menginterprestasikan ajaran bahasa Indonesia dari
sumber-sumbernya yang murni dan kontekstual dengan masa depan kehidupan
manusia.
B.
Saran
Demikianlah makalah yang kami buat, semoga dapat
bermanfaat bagi pembaca, apabila terdapat kesalahan mohon dimaafkan dan
dimaklumi. Untuk itu kritikan dan saran bagi pembaca sangat diharapkan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id/2010/06/06/meningkatkan-kinerja-dalam-konteks-teknologi-pendidikan/
diakses pada hari rabu, jam 13:35, tanggal 1 maret 2017.
Nasution. 2012. Teknologi Pendidikan. Jakarta: PT
Bumi Aksara.
Salma Prawiradiraga, Dewi. 2012. Wawasan Teknologi
Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Komentar
Posting Komentar